Tampilkan postingan dengan label WISATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Oktober 2016

Tempat Wisata di Nias Selatan

1.   Pantai Lagundri

 Siapa yang tidak mengenal tempat wisata di Nias Selatan yang saat di gemari oleh para peselancar ini. Jika anda berkunjung ke Nias terutama Nias Selatan, wajib bagi anda seorang wisatawan untuk pergi ke Pantai Lagundri ini. Ombaknya dapat mencapai tinggi hampir 5 meter, sehingga sangat cocok bagi surfer yang suka tantangan. Tidak heran jika Pantai Lagundri sering di jadikan tempat perlombaan Surfing dan di ikuti oleh surfer asing maupun lokal. Tidak hanya ombaknya yang menawan, pemandangan di sekililing pun sangat memukau. Mulai dari warna laut hijau dari jauh, pasir putih dan sunset di sore hari. Tidak heran Pantai Lagundri di jadikan tempat wisata dengan ombak menantang.

2.   Pantai Sorake


Pantai Sorake merupakan destinasi wisata di Nias Selatan saingan beratnya Pantai Lagundri. Karena Pantai Sorake terkenal juga dengan ombaknya yang menantang dan sering juga di adakan perlombaan atau event setiap tahunnya. Fasilitas yang di sediakan juga tidak kalah dari pantai lainnya, sebut saja penginapan Cottage yang memberikan pelayanan kelas dunia. Di pantai ini, terkenal sebagai tempat wisata di Nias Selatan dengan fasilitas bagus, pemandangan serta suasanan pun tidak kalah. Apalagi saat air sedang surut anda akan melihat terumbu karang cantik dengan jelas di karenakan air yang surut. Selain itu, Pantai Sorake juga menjadi objek wisata di Nias Selatan yang sering ramai dukunjungi.

3.   Fahomba


Tempat hiburan di Nias Selatan Fahomba adalah adat sekaligus di jadikan objek wisata di Nias Selatan yaitu sebuah batu besar di pergunakan untuk di lompati. Menurut adat, jika seorang laki-laki ingin menikah haruslah mampu untuk melompati batu ini untuk membuktikan kesetian mereka pada sang pasangan. Terletak di Desa Bawamoto yang terkenal dengan adat kentalnya, Selain batu Fahomba, di Desa ini juga di perlihatkan rumah-rumah adat bekas Tsunami aceh 2004 silam. Di desa Bawamoto juga terdapat pemandangan indah di mana sebuah lubang yang terbentuk akibat gerusan air laut dan menciptakan pemandangan langkah.

4.   Pulau Tello


Pulau Tello salah satu pulau di Nias Selatan yang memiliki panorama keindahan alam yang menakjubkan. Selain itu, Pulau Tello juga memiliki ombak yang cukup menantang cocok untuk surfing. Destinasi wisata di Nias Selatan ini juga memiliki fasilitas dan kenyaman terbilang sudah cukup untuk membuat anda betah bertinggal lama di pulau ini. Yang paling menonjol adalah memang keindahan alam dan udara di Pulau Tello benar-benar membuat gerah tubuh dan gerah hati langsung hilang. Pulau Tello adalah tempat wisata di Nias Selatan paling indah yang pernah ada.

5.   Gua Fetalasa


Wisata di Nias Selatan selanjutnya adalah sebuah Gua yang berada di Pulau Tello dengan keindahan di dalamnya. Meski sampai sekarang jarang di datangi oleh wisatawan, namun bagi anda yang sedang berada di Pulau Tello jangan sampai pergi meninggalkan pulau tanpa melihat gua satu ini. Tempat wisata di Nias Selatan satu ini merupakan tempat primadona bagi warga setempat untuk di kunjungi. Gua ini menjadi objek wisata di Nias Selatan paling menarik di Pulau Tello.

6.   Pantai Balogawo


Salah satu tempat wisata Paling Indah selanjutnya adalah Balagawo, soal panorama keindahan alam tidak perlu di ragukan lagi. Selain itu, pantai ini juga termasuk tempat wisata di Nias Selatan paling eksotis. Udara segar dan pemandangan indah akan membuat hati terasa nyaman. Tidak heran jika tempat wisata di Nias Selatan satu ini menjadi pilihan jika anda sedang mempunyai banyak waktu libur.


Tempat Wisata di Nias Barat


1.   Pantai Sirombu


Rekomendasi pertama adalah tempat Wisata di Nias Barat Paling terpopuler yaitu Pantai Sirombu. Berkunjung ke pantai ini sudah menjadi rutinitas masyarakat setempat di hari libur. Selain pemandangan alam dan udaranya yang segar. Destinasi wisata di Kepulauan Nias Barat ini juga memiliki faslitias yang memadai dan ramai pengunjung ketika hari libur tiba. Banyak orang yang memilih tempat wisata di Nias Barat  ini sebagai tempat rekreasi mereka bersama keluarga atau hanya jalan-jalan sekedar menyegarkan jiwa raga mereka dengan pemandangan pantai yang menakjubkan.

2.   Pulau Asu


Pada awalnya mungkin Anda akan berpikiran bahwa Pulau ini berbentuk Anjing atau di huni oleh banyak Anjing. Akan tetapi tidak, memang nama Asu juga berarti Anjing namun nama Asu disini adalah sebuah nama objek wisata di Nias Barat ini. Pulau Asu terletak di Kepulauan Hinako yang merupakan pulau terluar sebelah barat pulau Nias. Di destinasi wisata di Nias Barat  ini, lebih dari 20 keluarga menetap dan tinggal di pulau dengan luas kurang lebih 18 km ini. Pulau ini benar-benar sangat di rekomendasikan buat anda apabila ingin memanjakan tubuh dan pikiran Anda. Udara segar, air pantai yang bening, fasilitas memadai dan ombak tenang sangat cocok untuk Anda sekedar berjemur, memancing, berenang dan tracking mengelilingi pulau. Tidak heran jika Pulau Asu di katakana sebagai tempat wisata di Nias Barat terbaik.

3.   Pulau Langu


Sedang mencari tempat wisata di Nias Barat dengan sunset yang indah di sore hari?. Maka Pulau Langu adalah satu-satunya objek wisata di Nias Barat terbaik untuk jawaban pertanyaan tadi. Pulau Langu memiliki pemandangan alam yang fresh dan alami dengan minimnya campur tangan manusia. Yang paling berkesan adalah sunsetnya yang indah, bagi Anda seorang photographer yang sedang mencari tempat wisata dengan efek sunset terbaik.

4.   Pulau Bogi


Tempat wisata di Nias Barat Pulau Bogi lebih dikenal luas dengan keindahan bawah lautnya yang mempesona. Di sepanjang pesisir pulau, dengan jelas terlihat terumbu karang yang indah dan ikan bewarna-warni berenang dengan bebas di pinggiran pulau. Di kawasan Pulau Bogi satu ini sangat cocok bagi anda yang ingin diving atau memancing. Apalagi di pulau ini di tambah dukungan dari udara segar, pasir putih dan ombak tenang membuat pikiran plong seketika.

5.   Pulau Bawa


Nias terkenal di seluruh dunia dengan ombaknya yang menantang, salah satu tempat wisata di Nias Barat dengan ombak terbaik yang dicar-cari oleh para surfer di seluruh dunia adalah Pulau Bawa, Nias Barat. Pulau Bawa memiliki ombaknya yang besar, panjang dan tinggi membuat surfing anda tidak akan pernah terlupakan dalam hidup anda. Destinasi wisata di Kepulauan Nias Barat ini cocok untuk para surfer yang sedang mencari ombak tantangan. Maka Pulau Bawa adalah surganya surfing.

6.   Pulau Hinako


 Pulau Hinako adalah salah satu tempat wisata di Nias Barat untuk para pemancing,  air pantainya yang tenang dengan ombak pelan menyisir pinggiran pulau. Selain itu, air bening serta ikan-ikan unik bahkan beberapa didapati langkah di temukan membuat para pemancing manapun akan jatuh hati pada Tempat Wisata di Nias Barat cantik satu ini. Hinako juga terkenal dengan pemandangannya yang indah dan sering di kunjungi wisatawan lokal maupun turis asing. Destinasi wisata di Nias Barat terpopuer ini sering di sandingkan oleh Pulau Pandang di Kab. Batu Bara bahkan beberapa wisatawan berpendapat Pulau Hinako lebih bagus.

Tempat Wisata di Nias Utara


1.   Pantai Gawu Soyo

Pantai Gawu Soyo adalah tempat wisata di Nias Utara tepopuler yang pernah ada. Dikenal luas dengan nama Pantai Pasir Merah, bagaimana tidak? objek wisata di Nias Utara satu ini memiliki pasir berwarna kemerah-merahan beserta airnya yang berbeda dengan pantai-pantai lainnya. Selain itu, pantai ini sangat cocok bagi anda seorang peselancar karena Gawu Soyo memiliki ombak yang tinggi dan besar. Untuk anda yang ingin berkunjung ke objek wisata di Kepulauan Nias Utara ini, anda dapat mengakses jalur ke Desa Ombolata, Kec. Afulu, Kab. Nias Utara.
  1. Pantai Tureloto

Pantai Tureloto terletak di Desa Balefadorotuho, Kec. Lahewa, Kab. Nias Utara. Tempat wisata di Nias Utara paling eksotis ini memiliki hal-hal unik selain pantainya yang indah. Salah satunya terumbu karang dengan jumlah banyak yang mengitari pantai Tureloto. Di tempat tersebut cobalah untuk merasakan sensasi mengapung di objek wisata di Kepulauan Nias Utara ini atau juga dikenal dengan laut mati. Ada satu batu unik di Pantai Tureloto ini yaitu Batu Otak, batu yang memiliki motif otak manusia. Air yang jernih, kondisi alam yang masih sangat segar dan angin sepoi-sepoi akan membuat anda betah seharian. Pantai ini adalah destinasi wisata di Nias Utara paling ramai di kunjungi.
  1. Danau Megoto


Megoto adalah satu-satunya danau di semua destinasi tempat wisata di Kepulauan Nias Utara bahkan Nias, terletak di Kab. Nias Utara. Danau indah ini bisa anda kunjungi di Desa Ononamolo Tumula, Kec. Alasa, Kab. Nias Utara. Megoto dikenal dengan air danaunya yang jernih dan bening, namun ada keunikan tersendiri pada danau Megoto ini yaitu saat-saat tertentu warna air danau Megoto dapat berubah warna. Selain itu, danau ini juga bisa di gunakan untuk berenang serta media perikanan ikan tawar. Meski untuk menuju ke danau Megoto ini anda harus menempuh jalur yang susah namun akan terbayar oleh keindahan destinasi wisata danau Magoto di Nias Utara satu ini.
  1. Kara Sangadulo


Tempat wisata di Nias Utara yang masih dalam kawasan Kec. Alasa, Kab. Nias Utara. Kara Sangadulo, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “Batu Bertelur”. Nama yang unik bukan? Sesuai namanya, Kara Sangadulo adalah destinasi wisata di Nias Utara yang memperlihatkan keunikan alam di mana sebuah batu besar dengan telur-telurnya sebesar bola. Batu besar ini dikatakan sebagai induk dari telur-telurnya. Cara batu ini bertelur tidak sama dengan unggas. Menurut kesaksian masyarakat setempat, induk batu ini memiliki tonjolan-tonjolan di sekujur tubuhnya kemudian semakin lama tonjolan tersebut terlihat seperti melepas diri hingga akhirnya terpisah dengan induknya. Tidak heren jika objek wisata ini menjadi tempat wisata di Nias Utara terpopuler.
  1. Pulau Wungu Laguna


Pulau Wungu Laguna merupakan tempat wisata di Nias Utara karya indah Tuhan yang Maha Esa dengan air bening bagai Kristal. Bahkan anda dapat melihat pantulan langit biru dengan sangat jelas. Pulau Wungu adalah objek wisata di Nias Utara dengan pulau tropis kecil dengan keindahan alam yang masih sangat segar belum di campur tangan manusia. Pulau yang terletak di Kec. Afulu ini merupakan perbatasan Indonesia dengan India. Pulau ini cukup besar untuk di telusuri sekitar panjang 5km dan lebar 1.5 km. Suasananya yang benar-benar tentram membuat objek wisata di Nias Utara paling indah ini cocok sebagai tempat mancing dan berenang.

Senin, 26 September 2016

Situs Megalitik Bitaha, Desa Olayama Kec. Lölöwa’u, Kab. Nias Selatan

Oleh: P. Johannes M. Hämmerle, OFMCap. 
Situs Megalitik Bitaha sudah terkenal sejak zaman kolonial Belanda. Para penulis buku-buku edisi terbaru juga menurunkan berita dan foto-foto dari Situs yang termasyhur itu, antara lain: Buku edisi lux tulisan Jean Paul Barbier dengan judul Botschaft der Steine
Messages in Stone; halaman 49) dan buku Guide untuk wisatawan tentang pulau Nias yang ditulis pada tahun 1998 oleh Bernd Eberlein yang dilebih akrab dipanggil Mister Ben di Nias (halaman 66-67).

Terdapat di situ beberapa jenis Megalit seperti Awina, Sahuwa dan beberapa bentuk Behu. Yang paling menonjol adalah menhir “Behu” yang berdiri. Ada yang tidak dipahat, ada yang dipahat tapi hanya wajah dan genitalia laki-laki dan ada pula yang dipahat lengkap dalam bentuk manusia yang jongkok.


Semua megalit ini punya hubungan erat dengan budaya marga Halawa, keturunan dari para leluhur Ho dan Sirao. Seorang putra dari keturunan Ho adalah Halawa. Keturunanya yang bernama Fatema pindah ke wilayah desa Soliga, negeri Huruna. Pada waktu itu nama desa itu disebut Hilifalawu. Dan ke-10 saudara Halawa yang bermukim di wilayah Huruna berkembang sejak 7 generasi yang lalu sampai sekarang. Seorang dari antara ke-10 saudara Halawa bernama Falagöhili pergi ke Bitaha dan bermukim di situ.
Situs Bitaha hanya salah satu dari sekian banyak situs megalitik di negeri Huruna (öri Huruna). Desa Olayama sendiri memiliki tiga situs, yakni Hilibadalu, Hili’ana’a dan Bitaha.

Situs Hili’ana’a
Jarak situs Hili’ana’a dari lokasi terdekat yang dihuni warga di Olayama sekitar 1.500 meter. Maka tiga Behu antropomorfik (gowe ni’oniha atau menhire dalam bentuk manusia) dan satu megalit lain yang sangat artistik sudah dicuri. Tiga Behu yang dicuri masih dapat dilihat dalam foto Schröder (1917, Abb. 21) dan pada foto yang sama dalam buku Barbier-Mueller pada halaman 48.

Jumlah Behu yang berbentuk manusia dalam foto itu sebanyak 5 buah. Kini hanya yang paling kiri yang tersisa. Ketiga buah megalit di sebelah kanan sudah raib. Sedangkan Behu yang paling kekar yang dapat kita lihat pada Cover berwarna buku “Hikaya Nadu” yang ditulis oleh Johannes M. Hämmerle pada tahun 1995, sudah dua kali hendak dicuri.
Supaya tidak begitu berat, kakinya dipatahkan dan ditinggalkan begitu saja. Pertama kalinya maling itu hanya sanggup membawanya sejauh 50 m. Keesokan harinya, warga desa Olayama yang hendak menderes karet menemukan behu yang ditinggalkan begitu saja di bawah semak dan pohon karet.

Lantas Behu itu dikembalikan lagi ke situs aslinya oleh para penduduk. Tetapi para maling dan orang tertentu yang ada di belakang pencurian benda yang dilindungi undang-undang itu tidak mau melepaskan mangsa mereka. Mereka beraksi kedua kalinya.

Dalam aksi kedua, mereka berhasil melarikan Behu itu sejauh satu kilometer dari lokasi asal. Mungkin mereka kehabisan tenaga di tempat itu, lalu Behu ditinggalkan lagi di tengah-tengah rimbunan pohon karet. Kali ini warga desa mengangkat dan membawanya ke dalam desa mereka. Karena kakinya tidak ada, Behu itu sekarang berbaring di samping rumah orang. Waktu yang paling nyaman bagi para maling ialah di malam hari, ketika musim hujan tiba.

Situs megalitik Hilibadalu terletak sekitar 2000 m dari lokasi rumah warga di Olayama yang terdekat. Belum ada berita berapa banyak megalit yang sudah dicuri di lokasi itu. Sewaktu penulis berkunjung di lokasi itu pada pertengahan bulan Oktober 2007, satu buah megalit yang tingginya sekitar 2,20 m sudah menunjukkan bekas maling. Mereka sudah mulai membelahnya supaya tidak begitu berat. Satu Behu yang lain di sampingnya sudah patah kepalanya. Dan satu Behu lain lagi sudah dibaringkan oleh maling itu di atas dua kayu bulat untuk diangkut dan dibawa lari. Pasti cukup banyak orang yang terlibat untuk mengangkut menhir yang besar. Patut diduga bahwa di antara warga setempat di negeri Huruna ada yang mengetahui tentang hal itu atau juga terlibat secara aktif.

Yang jelas, pada malam 30/31 Oktober 2007 terjadi lagi pencurian di Hilibadalu. Pada tanggal 31 Oktober, Kades Olayama telah mengirim SMS berikut kepada penulis: “Ya’ahowu pa. Batu megalit di Hilibadalu udah dicuri. Barangnya udah kami dapat, tapi orangnya belum kami dapat. Langsung diangkat ke tempat yg aman di simpang Olayama. Waktu kedapatan rabu, 31-10-07. Dari Kades Olayama.”

Message ini sudah langsung diperlihatkan oleh penulis kepada yang mewakili Kapolres pada acara peresmian SD Negeri 2 di Jl. Karet 17 Gunung Sitoli, yang dibangun oleh Unicef. Saat itu, Kapolres memanggil Inteligen. Message itu sudah diteruskan pula ke dalam HP beliau dengan memberi keterangan tambahan. Tetapi ketika ditanyakan realisasi laporan itu, pada tanggal 5 Nopember 2007 di Olayma, Kades Olayama mengatakan bahwa: “Sampai sekarang belum ada yang datang dari kantor polisi untuk menyelidiki kasus pencurian warisan budaya itu.”


Sumbang Saran untuk "PENGEMBANGAN PARIWISATA DI NIAS"



Oleh : Eben Ezer Lase



(Note: Tulisan ini hanya Sumbang Saran sebagai wujud kepedulian dalam upaya mewujudkan "Nias Pulau Impian". Yang positif diambil, yang kurang berkenan mohon dimaafkan. Dalam tulisan kami tidak memuat apa yang sudah umum disampaikan (ttg melestarikan pariwisata), tetapi hal yang sedikit berbeda (out of box). Tidak ada yang mustahil "mimpi terwujud", asal ada usaha, kerjasama, dan penyertaan Tuhan. Terimakasih.)

Dalam upaya mendukung wacana “NIAS PULAU IMPIAN” maka perlu tindakan nyata dalam pengembangan Pariwisata di Nias yang disertai dengan KREATIFITAS dan INOVASI. Kebudayaan Nias yang sarat dengan sejarah yang berharga tentulah sangat penting untuk dipertahankan, namun sepatutnya budaya adalah suatu yang DINAMIS, tidak statis dan terus berkembang. Peninggalan sejarah di Pulau Nias beberapa ratus atau ribu tahun lalu, misalnya dari zaman megalitikum merupakan “warisan” dan “kado istimewa” untuk generasi sekarang. Warisan yang dimaksud misalnya, tari perang, lompat batu, rumah adat, tari moyo, dan lain-lain. Nah, untuk generasi sekarang (tahun 2000an), apa yang menjadi “WARISAN” dan “kado istimewa” untuk generasi yang akan datang, misalnya ratusan tahun kemudian. Sepatutnya generasi sekarang juga memikirkan dan mempersiapkan sesuatu sebagai warisan bagi generasi mendatang yang khas dan tidak hanya meneruskan warisan leluhur.

Oleh karena itu, perlu adanya kreatifitas dan inovasi dari generasi sekarang; mohon maaf “bukan hanya sekedar mengikuti” dengan warisan zaman nenek moyang Nias dahulu. Intinya, apakah yang akan kita wariskan dari generasi sekarang? Dalam rangka pengembangan bidang pariwisata di Nias, ada beberapa hal yang kami usulkan (sumbang saran) yang menjadi pertimbangan dan menunjukan indikasi stagnasi dan butuh inovasi serta kreatifitas, yaitu:

1. Perlu adanya KREASI TARIAN BARU, atau setidaknya memberi sentuhan lain pada Tarian yang sudah ada, jangan hanya menggantungkan harapan atau hanya mengandalkan tarian yang sudah ada (di antaranya Tari Moyo dan Tari Baluse). Memang benar, hal ini harus DILESTARIKAN karena adalah warisan yang tak ternilai, namun hal ini juga menunjukkan sikap yang pasrah menerima apa adanya. Padahal kedua tarian tersebut (diantaranya) masih bisa dieksplorasi, dikembangkan dan dikemas supaya LEBIH menarik pariwisata. Bahkan kalau memungkinkan CIPTAKAN TARIAN BARU dari generasi sekarang yang tentu saja masih bernuansa atau berciri khas budaya Nias. Misalnya, gerakan baru maena dikemas lebih menarik, energik, dan lebih berirama. Hal itu tentu akan memperkaya khasanah budaya Nias, dan akan sangat mendukung perkembangan pariwisata di Pulau Nias. Selanjutnya, memperkenalkan dari usia dini pada anak-anak Nias mengenai budaya sehingga muncul kecintaan kepada budaya sendiri. Yang jadi pertanyaan, “Kapan kita akan mendengar Tari nias menjadi bagian ektra-kurikuler di sekolah-sekolah, seperti ekskul Tari Bali, Tari Jawa?” Semoga bisa terwujud.

2. Perlunya mengoptimalkan keunggulan alam untuk kepentingan pariwisata yang lebih besar; misalnya, adanya beberapa mata air (“umbu nidano”) atau bukit atau pantai yang “tergolek lunglai” tanpa ada sentuhan modernisasi. Di beberapa tempat lain di Indonesia, tempat-tempat seperti itu sangat dieksplorasi dengan maksimal, misalnya mata air panas di cipanas garut, dioptimalkan dengan membangun kolam renang (“water park”). Sekarang, coba perhatikan berapa banyak “umbu nidano” yang dibiarkan apa adanya bahkan cenderung terbengkalai. Diterima atau tidak diterima kita berada di era modernisasi dan segala sesuatu yang mengalami “sentuhan” MODERNISASIi akan menjadi lebih menarik, tentu saja tanpa mengubah keaslian alam sebelumnya.

3. Perlu adanya kreatifitas dalam mengembangkan daya tarik pariwisata yang baru. Untuk itu perlu inovasi, misalnya membuat jalur motor cross, lintas alam, bumi perkemahan, atau arum jeram, dan lain-lain yang kelak bisa menjadi ajang event nasional maupun internasional. Adanya perbukitan, lembah dan alur sungai di Pulau Nias sangat memungkinkan untuk menciptakan daya tarik pariwisata yang baru. Ketika hal ini bisa diciptakan, maka akan memperlebar wahana wisata di Pulau Nias dan akan menjaring wisatawan dengan kualifikasi yang berbeda. Hal ini, akan menjadi TEROBOSAN yang luar biasa, bahkan target jangka panjang menjadikan Pulau Nias, “One Stop Vacation”; tempat rekreasi yang komplit. Tentu saja hal ini harus dibarengi dengan pembenahan sarana akomodasi dan infrastruktur pendukung lainnya; seperti pelebaran bandara, perbaikan jalan raya, pembangunan hotel berbintang, dan lain-lain.

4. Cinderamata khas Nias merupakan salah satu daya tarik pariwisata, dengan cinderamata ini menjadi "re-minding" akan menggerakkan kedatangan berulang wisatawan di Nias. Yang menjadi perhatian adalah peningkatan KUALITAS barang kerajinan, variasi barang, ketersediaan di banyak tempat dan harga yang terjangkau. Namun, apakah hal tersebut sudah tercapai? Alangkah baiknya, apabila cindera khas Nias juga bisa didapatkan di kota-kota lain di luar Pulau Nias sebagai ajang promosi pariwisata. Sekarang ini muncul “Batik Nias”, hal ini sungguh sangat baik, dan perlu adanya pengembangan terus menerus dalam kualitas bahan dan variasi motif serta warna.

5. Perlu meningkatkan "brand awareness" Pulau Nias menjadi tempat Impian wisata. Kurangnya PROMOSI yang cepat dan akurat tersampaikan serta dimuat di media yang tepat. Akses internet harus bisa dimanfaatkan dengan baik, termasuk membuat website pariwisata, dan perkenalan melalui media sosial. Promosi secara langsung bisa dikerjakan oleh sanggar-sanggar budaya Nias yang ada di kota-kota besar maupun kecil di Indonesia ataupun negara lain. Namun, apa sanggar-sanggar budaya Nias ini dapat kita temukan? Apakah mudah untuk mendapatkan busana adat dan peralatan adat (toho, baluse, gari) untuk keperluan pentas budaya? Hal ini perlu menjadi perhatian oleh pemerintah daerah, organisasi massa Nias, misalnya HIMNI (Himpunan Masyarakat Nias Indonesia), HKNB di Bekasi, Pamanis di Jawa Barat, dan lain-lain. Mulai sekarang harus mulai dipelopori pembuatan sanggar-sanggar busaya Nias, paling tidak di kota-kota besar.

Mengapa Pengembangan Pariwisata di Nias begitu menyita perhatian? Karena bidang Pariwisata memberi arti penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menjadi sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) Nias; meningkatkan kesejahteraan rakyat Nias dan menekan angka kemiskinan; menciptakan lapangan kerja dan mengatasi pengangguran; melestarikan dan memajukan kebudayaan asli Nias; dan terlebih membawa Daerah Nias keluar dari Kategori Daerah Tertinggal (sesuai Peraturan Presiden no. 131/2015).

Pariwisata di Nias bukan hanya dikembangkan sekedarnya, tetapi dikembangkan dengan inovasi dan kreatifitas sehingga ada perubahan yang signifikan. Upaya HIMNI (Himpunan Masyarakat Nias Indonesia) menggagas dan melakukan Launcing bertajuk "Nias Pesona Pulau Impian" pada tanggal 1 – 3 bulan Juni 2016 sangatlah tepat. Marilah kita mendukung wacana "Nias Pesona Pulau Impian" tersebut dengan langkah-langkah konkrit/nyata, strategis dan terorganisir dengan baik, bukan hanya “eufioria” atau hanya mimpi belaka. Tugas besar ini digerakkan dan dibina oleh pemerintah daerah Nias dengan dibantu seluruh elemen masyarakat, sehingga dapat menggerakkan semua sektor yang terkait, yang melibatkan industri, seperti kerajinan tangan dan cinderamata, serta usaha-usaha penginapan dan transportasi. Maju terus pariwisata Pulau Nias.

MARI, SEGERA WUJUDKAN “NIAS PESONA PULAU IMPIAN”.

YA’AHOWU ! SAOHAGOLO !